Thursday, October 29, 2009

JALAN MENUJU TAQWA (Siri 1)

Takwa merupakan sumber segala kebaikan dalam masyarakat, sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kerosakan, kejahatan dan perbuatan dosa. Bahkan, takwa merupakan tiang utama dalam pembinaan jiwa dan akhlak seseorang dalam rangka menghadapi fenomena kehidupan. Agar ia dapat membezakan mana yang baik dan mana yang buruk dan agar ia bersabar atas segala ujian dan cubaan. Itulah hakikat takwa dan itulah pengaruhnya yang sangat memberi kesan dalam pembentukan peribadi seorang insan.

Jalan Mencapai Takwa
Di sini cukuplah kita mengutarakan faktor-faktor terpenting yang dapat menyuburkan takwa, mengukuhkannya di dalam hati dan jiwa seseorang Mukmin, dan menyatukannya dengan perasaan, semoga kita dapat mengikuti jejak menuju takwa.
Pertama: Mu’ahadah (Mengingat Perjanjian)
Kalimah ini diambil daripada firman Allah Yang Maha Tinggi yang bermaksud:
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji…”
[An-Nahl: 91]

Cara Mu’ahadah

Hendaklah seorang Mukmin berkhalwat (menyendiri) antara dia dan Allah Subhanahuwata’ala untuk mengintrospeksi diri seraya berkata kepada dirinya:
“Wahai jiwaku, sesungguhnya kamu telah berjanji kepada Rabbmu setiap hari disaat kamu berdiri di dalam solat membaca:
“Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon bantuan.”
Wahai jiwaku, bukankah dalam munajat ini engkau telah berikrar tidak akan menghambakan diri kepada selain Dia. Tidakkah engkau telah berikrar untuk tetap komited kepada siratal mustaqim (jalan yang lurus). Tidakkah engkau telah berikrar untuk berpaling daripada jalan orang-orang yang sesat dan dimurkai Allah?
Kalau memang demikian, hati-hatilah wahai jiwaku. Janganlah engkau langgar janjimu setelah engkau jadikan Dia sebagai pengawasmu. Janganlah engkau mundur daripada jalan yang telah ditetapkan oleh Islam setelah engkau jadikan Allah Subhanahuwata’ala sebagai saksimu. Hati-hatilah jangan sampai engkau mengikuti jalan orang-orang yang sesat dan menyesatkan setelah engkau jadikan Dia sebagai penunjuk jalan.
Hati-hati wahai jiwaku, jangan engkau engkar setelah beriman, jangan tersesat setelah engkau mendapatkan petunjuk, janganlah engkau menjadi fasik setelah beriltizam (komited). Barang siapa melanggarinya, maka akibatnya akan menimpa dirinya, barangsiapa tersesat maka kesesatannya itu akan menimpanya.
“Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Dan Kami (Allah) tidak akan menurunkan azab kecuali setelah mengutus seorang utusan (Rasul).”
Wahai saudaraku, bila anda mengharuskan diri untuk berpegang dan iltizam (komited) terhadap janji yang diikrarkan tidak kurang 17 kali dalam sehari itu, maka anda telah meniti tangga menuju takwa, anda sudah menyusuri jalan rohani, dan pada akhirnya anda akan sampai ke tempat tujuan, yakni ke darjat para muttaqin (orang yang bertakwa).
Kedua: Muraqabah (Merasakan Kehadiran Allah Subhanahuwata’ala )
Dasar muraqabah dapat anda temukan dalam surah Asy-Syura, iaitu firman Allah Subhanahuwata’ala yang bermaksud:
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk solat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.”
[Asy-Syu’ara’: 218-219]

Dalam sebuah hadis, ketika nabi SAW ditanya tentang ihsan, baginda menjawab:
“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu.”
Makna Muraqabah

Muraqabah sebagaimana diisyaratkan oleh al-Quran dan hadis, ialah - Merasakan keagungan Allah Azza Wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kehadiran-Nya dikala bersendirian ataupun dikhalayak ramai.
Cara Muraqabah
Sebelum memulai sesuatu pekerjaan dan disaat mengerjakannya, hendaklah seorang Mukmin memeriksa dirinya, apakah setiap gerak dalam melaksanakan amal dan ketaatannya dimaksudkan untuk kepentingan peribadi dan mencari populariti, ataukah kerana dorongan redha Allah Subhanahuwata’ala dan menghendaki pahala-Nya?
Jika benar-benar kerana redha Allah Subhanahuwata’ala, maka teruskanlah melaksanakannya walaupun hawa nafsunya tidak setuju dan ingin meninggalkannya. Kemudian teguhkan niat dan tekad untuk melangsungkan ketaatan kepada-Nya dengan keikhlasan sepenuhnya dan semata-mata demi mencari redha Allah Subhanahuwata’ala.

Itulah hakikat ikhlas. Itulah hakikat kebebasan diri daripada penyakit nifa’ dan riya’. Iman Hasan al-Basri berkata:
“Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada seorang hamba yang selalu mempertimbangkan niatnya. Bila semata-mata kerana Allah Subhanahuwata’ala, maka dilaksanakannya tetapi jika sebaliknya maka ditinggalkannya.”
Bentuk-bentuk Muraqabah
Ada beberapa bentuk muraqabah:
1) Muraqabah dalam melaksanakan ketaatan adalah dengan ikhlas kepada-Nya.
2) Muraqabah dalam kemaksiatan adalah dengan taubat, penyesalan dan meninggalkannya secara total.
3) Muraqabah dalam hal-hal yang mubah (harus) adalah dengan menjaga adab-adab terhadap Allah Subhanahuwata’ala dan bersyukur di atas segala nikmat-Nya.
4) Muraqabah dalam musibah adalah dengan redha kepada ketentuan Allah Subhanahuwata’ala serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh kesabaran.
Saudaraku, sekiranya anda telah bermuraqabah kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan tingkat muraqabah yang telah dinyatakan, kemudian anda dapat tetap melaksanakannya (konsisten), maka tidak syak lagi bahawa anda telah meniti tangga menuju takwa. Anda sudah menapaki jalan rohani. Dan pada akhirnya anda akan sampai ke darjat para muttaqin yang mulia.
Ketiga: Muhasabah (Introspeksi diri)

Dasarnya terkandung di dalam Al-Quran:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
[Al-Hasyr: 18]
Makna muhasabah sebagaimana diisyaratkan oleh ayat ini ialah- Hendaknya seorang Mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan. Apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan redha Allah Subhanahuwata’ala atau apakah amalnya dicemari sifat riya’?
Ketahuilah, seorang Mukmin setiap pagi hendaklah mewajibkan diri untuk memperbaiki niat, melaksanakan ketaatan, memenuhi segala kewajiban, dan membebaskan drii daripada riya’. Demikian juga dipetang hari, semestinya dikhususkan waktu untuk bersendirian dengan dirinya untuk memperhitungkan semua yang telah dilakukan. Apabila yang dilakukannya itu kebaikan, maka hendaklah memanjatkan puji syukur kepada-Nya atas taufik-Nya, seraya memohon keteguhan dan tambahan kebaikan. Apabila yang dilakukan itu bukan kebaikan, maka hendaklah ia bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus, seraya menyesal, memohon ampun, berjanji untuk tidak mengulangi serta memohon perlindungan dan husnal khatimah kepada-Nya.
Semoga Allah Subhanahuwata’ala meredhai Umar al-Faruq Radhiallahu’anhu yang berkata:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukkan yang agung (hari Kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun.”Saudaraku, jika saudara telah menghisab diri dalam urusan yang besar maupun yang kecil, dan berusaha keras melakukan khalwat di malam hari dengan Allah Subhanahuwata’ala untuk melihat apa yang akan dipersembahkan pada hari Kiamat kelak, maka saudara telah melangkah menuju takwa dan menapaki perjalanan rohani bahkah akhirnya saudara akan sampai ke darjat para muttaqin.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment